Selasa, 31 Januari 2012

Motor Baru Ducati Puaskan Rossi


Valentino Rossi
Sepang - Valentino Rossi baru saja mencicipi Desmosedici GP12 yang akan menjadi andalan Ducati untuk musim 2012. Hasilnya cukup untuk bikin Rossi puas dan optimistis. Musim lalu adalah musim pertama Rossi bersama Ducati. Menuntaskan musim dengan capaian terbaik finis di posisi tiga, si Italiano untuk kali pertama dalam kariernya menyudahi musim tanpa satu kemenangan pun. Rossi kini menatap musim keduanya dengan Ducati dan sudah pasti berharap torehan lebih baik. Optimisme setidaknya lahir usai menjalani sesi tes pra-musim pada hari pertama di Sepang, Selasa (31/1/2012). Dalam tes tersebut Rossi mencatatkan waktu kelima terbaik, terpaut 0,735 detik di belakang Jorge Lorenzo dari Yamaha yang menjadi pencatat waktu tercepat. Hasil itu setidaknya sudah lebih baik ketimbang capaian Ducati 800cc di lintasan yang sama tahun lalu. Rossi saat itu tidak mampu mencatatkan selisih satu detik dari peraih waktu tercepat dan lebih sering berada di kisaran selisih 1,5 detik. "Kami sudah 'setengah jalan' dibandingkan dengan tahun lalu. Selisihnya adalah 0,7 detik dari Lorenzo, yang mencatatkan waktu lap bagus," komentar Rossi di Crash. Akan tetapi, bukan hanya waktu lap saja yang sudah membuat Rossi puas dengan tesnya kali ini. "Aku sangat senang terutama kami sudah banyak membenahi banuak masalah yang tidak bisa kami tanggulangi di musim 2011. Pengereman, saat memasuki tikungan, kelincahan--motornya jauh lebih baik. Ducati sudah melakuan pekerjaan bagus dalam waktu singkat. Ini baru hari pertama jadi kami masih perlu bekerja keras. Aku pikir saat berakselerasi motornya masih kurang stabil (melebar). Aku pikir juga di mesin dan elektronik, sedikit di sasis, tapi aku pikir kami bisa (membenahinya). Kami bisa kompetitif," seru Rossi optimistis
sumber :detiksport

Minggu, 15 Januari 2012

Ilmuwan Deteksi Molekul Pendingin Bumi

VIVAnews - Para ilmuwan di Inggris dan AS mengklaim telah mendeteksi molekul baru di atmosfer. Molekul itu bisa membantu menghasilkan efek dingin di muka bumi. Namun, masih perlu diteliti apakah molekul ini bisa membantu mengatasi masalah pemanasan global.

Seperti dilaporkan kantor berita Reuters, molekul yang dideteksi ini bisa mengubah polutan, seperti nitrogen dioksida dan sulfur dioksida, menjadi senyawa yang dapat menyebabkan pembentukan awan, membantu untuk melindungi bumi dari matahari.

Selama abad yang lalu, suhu rata-rata bumi telah naik 0,8 derajat celcius. Para ilmuwan mengatakan pada abad ini peningkatan suhu itu harus dibatasi hingga di bawah dua derajat celcius untuk mencegah naiknya permukaan air laut dan dampak lain yang tidak diinginkan. Tapi mainstrim utama cara membatasi pemanasan, seperti penggunaan energi yang terbarukan dan efisiensi energi, tidak membuahkan hasil dengan cepat. Dalam sebuah makalah yang diterbitkan jurnal Science pada hari Kamis, peneliti dari Universitas Manchester dan Bristol, serta AS --yang berbasis di Sandia National Laboratories -  mendeteksi molekul baru yang disebut biradikals Criegee. Penemuan ini setelah para ilmuwan menggunakan sumber cahaya yang kuatnya 100 juta kali lebih kuat dari matahari.

"Kami menemukan biradikal yang bisa mengoksidasi sulfur dioksida, yang akhirnya berubah menjadi asam sulfat, yang dikenal memiliki efek pendinginan," kata salah satu penulis penelitian dalam kimia atmosfer di Universitas Manchester, Carl Percival sebagaimana dikutip Reuters. Namun, masih terlalu dini untuk memprediksi berapa banyak molekul harus dibentuk untuk membuat dampak yang besar pada suhu dunia dan keamanan mereka harus diuji. Pemahaman efek pembentukan awan terhadap iklim juga belum diketahui.

Pendinginan

Saat meletus pada 1991, Gunung Pinatubo di Filipina melepaskan sejumlah besar sulfur dioksida yang membentuk kabut asam sulfat. Hal ini mengurangi jumlah sinar matahari ke bumi hingga mencapai sekitar 10 persen. Sehingga menurunkan suhu global sekitar 0,5 derajat celcius selama dua tahun. Namun, konsentrasi sulfur dioksida yang tinggi di atmosfer akibat letusan itu juga dapat menyebabkan penyakit paru-paru, hujan asam, dan penipisan lapisan ozon pelindung bumi.

"Biradikal tidak bagus untuk memperbaiki bumi," kata Percival, mengacu pada cara-cara radikal menurunkan suhu planet, seperti letusan gunung berapi atau pemutihan awan untuk memantulkan sinar matahari yang lebih banyak. Molekul-molekul terdeteksi oleh tim peneliti ini terjadi secara alami karena adanya alkena, senyawa kimia yang sebagian besar dilepaskan oleh tanaman. "Tanaman akan melepas senyawa ini, membuat biradikal dan akhirnya membentuk asam sulfat, sehingga efeknya pada ekosistem dapan menghilangkan efek pemanasan dengan memproduksi aerosol pendinginan," kata Percival.

Efek pendinginan terbesar bisa dirasakan pada atmosfer yang mengandung banyak alkena dan polutan, yang memungkinkan reaksi biradikal. "Efeknya benar-benar akan dirasakan di sejumlah titik, seperti Hong Kong atau Singapura," kata Percival

sumber:VIVAnews